Semangat Sumpah Pemuda melawan Liberalisme
Sumpah Pemuda merupakan fase kebangkitan bangsa Indonesia yang ke-3 setelah kebangkitan Kartini (1879) dan Boedi Oetomo (1908) fase ini memperlihatkan kepada dunia bagaimana peran pemuda Indonesia yang sangat luar biasa dalam sebuah perubahan bangsa.
Gerakan pemuda dalam kebangkitan bangsa Sumpah Pemuda (1988) juga merupakan suatu gerakan politik yang ditandai dengan arah perjuangannya dalam membela dan memperjuangakan kepentingan rakyat (ekonomi kerakyatan) yang dibenturkan dengan gerakan ekonomi liberal yg dimulai pada tahun 1870 yang ditandai dengan kekuasaan Belanda yang bertambah kaya dengan perusahaan-perusahaan besarnya dan memiskinkan penduduk pribumi.
Melalui fase kebangkitan bangsa ke-3 ini ada sebuah nilai yang harus kita perjuangkan terus sampai hari ini dengan perlawanan terhadap setiap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. kita begitu terbuai dengan penyampaiaan kepala Negara yang selalu menyampaikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang ternyata kesemuanya dicapai melalui “banjirnya modal asing” dalam bentuk pinjaman ataupun investasi (FDI). Pemerintah di bawah pengaruh para teknokrat, rupanya tidak khawatir sama sekali akan bahaya yang ditimbulkan utang-utang yang menumpuk (overborrowing). Deregulasi dan liberalisasi dalam aturan keluar-masuknya modal telah dibuat “terlalu bebas” sampai-sampai seorang tokoh teknokrat anggota pemerintah terkejut sendiri ketika ekonomi Indonesia telah menjadi sangat liberal.